Permasalahan Polusi Akibat Industri Fast Fashion di Indonesia

 

Source


Secara global, diperkirakan 92 juta ton limbah tekstil tercipta oleh industry mode setiap tahunnya. Itu setara dengan satu truk penuh pakaian yang dibuang di tempat pembuangan sampah atau dibakar setiap detiknya. Jika tren ini berlanjut hingga tahun 2030, maka jumlah limbah tekstil diperkirakan akan mencapai 134 juta ton per tahun.

 

Alan Wheeler, Direktur Asosiasi Daur Ulang Tekstil Inggris, mengatakan bahwa industri mode adalah pencemar terbesar kedua di dunia yang menghasilkan 1,2 miliar ton gas rumah kaca. Tidak hanya itu, industri mode juga menciptakan polusi mikroplastik, yang merupakan potongan kecil plastic yang tidak dapat terurai secara hayati dan ditemukan dalam serat sintetis seperti polyster, nylon dan acrylic. Diperkirakan 35 persen dari semua mikroplastik di lautan berasal dari pencucian kain sintetis yang dicerna oleh berbagai satwa laut. Masalah besar lainnya mengenai industry ini adalah limbah kimia yang dibuang selama proses produksi. Ini paling banyak terjadi di Indonesia, yang memproduksi 2,4 persen tekstil dunia dan merupakan salah satu negara industry ekspor terbesar.

 

Di tepi Sungai Citarum, terdapat lebih dari 1,000 pabrik dan mereka melepaskan bahan kimia beracun, seperti merkuri, cadmium dan arsenic ke sungai –air yang sama yang digunakan oleh penduduk setempat untuk mandi dan mencuci pakaian. Yuyun Ismawati dari Nexus3Foundation, LSM kesehatan lingkungan di Jawa Barat, mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Indonesia. Ia mengatakan bahwa industry pakaian di Indonesia menyebabkan banyak kerusakan lingkungan dan masalah kesehatan. Pabrik membuang limbah beracun dengan volume besar ke Citarum, menjadikannya salah satu sungai paling tercemar di dunia. Penduduk setempat bahkan mengatakan bahwa pewarna teksil mengubah warna sungai setiap harinya.

 

Beberapa perusahaan mode besar menawarkan solusi terhadap masalah limbah pakaian dengan skema recycle, dimana pelanggan ditawati voucher atau diskon sebagai imbalan dari menyerahkan pakaian yang tidak lagi digunakan. Namun begitu, tentu itu tidak cukup. Carry Somers, pendiri grup Fashion Revolution menekankan pada edukasi dan pemberdayaan pada masyarakat. Diperlukan kesadaran bahwa kita memliki kekuatan dan kemampuan untuk menciptakan perubahaan dan revolusi pada industry mode secara keseluruhan.


Disadur dari CGTN News