Video: "Sustainable" ataukah "Greenwashing"?
Pada video ini, teman-teman akan diajak untuk memahami lebih lanjut mengenai sustainable fashion dan juga adanya greenwashing. Diharap melalui video ini, teman-teman dapat lebih jeli untuk membedakan merek manakah yang benar-benar menerapkan sustainability ataupun yang melakukan greenwashing. Yuk, simak videonya!
Video: Mengenal Istilah Greenwashing
Bagi teman-teman yang sudah membaca posting Opini sebelumnya mengenai fenomena Greenwashing, mari simak video berikut oleh Reuters untuk lebih memahami istilah Greenwashing dan dampaknya terhadap citra suatu merek.
Explainer: What is Greenwashing?
Video: Apa Itu Sustainable Fashion?
Bagi teman-teman yang masih bingung dengan istilah sustainable fashion, mari simak video singkat oleh Nova Media dengan desainer Toton Januar dari Toton the Label yang menjelaskan tentang makna dari sustainable fashion itu sendiri dan salah kaprah yang kerap terjadi terhadap isu tersebut!
"Mengenal Sustainable Fashion di Era Ini"
Ganggang Laut, Solusi Sustainable Fashion di Masa Depan?
![]() |
| Source |
Industri fashion global bernilai triliunan dollar dan memperkerjakan jutaan orang dalam prosesnya. Namun begitu, industry fashion turut menyumbang 10% emisi karbon global dan menciptakan polusi dan limbah yang terus menumpuk. Di Amerika Serikat, hanya 15% limbah tekstil yang didaur ulang, sedangkan sisanya dibakar atau dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan sampah.
Fakta tersebut menjadi ide tercetusnya Algaeing, sebuah startup asal Israel yang menciptakan tekstil menggunakan ganggang laut atau algae yang dapat dapat terurai secara hayati, tidak mencemarkan dan berenergi rendah. Algeing bertujuan untuk memanfaatkan kekuatan ganggang untuk menciptakan dampak yang nyata terhadap perubahan iklim. CEO dan salah satu pendiri dari Algaeing, Renana Krebs, menjelaskan bahwa formula ganggang laut dapat digunakan untuk membuat serat dan pewarna alami dengan lebih sedikit air daripada produk konvensional, serta menghasilkan nol limbah dan polusi. Ganggang laut atau yang lebih dikenal dengan rumput laut, sudah digunakan di industry lain seperti makanan, obat-obatan, dan bahkan sector biofuel. Kelompok organisme akuatik ini dilihat sebagai bahan yang berkelanjutan atau sustainable.
Krebs yang memiliki pengalaman berkecimpung di industry fashion selama 15 tahun, melihat langsung polusi dan limbah industry yang dihasilkan. Setelah melihat peluang untuk menerapkan ganggang pada tekstil dan kemudian berhenti dari pekerjaannya pada tahun 2014, ia pun meluncurkan Algaeing pada tahun 2016. Ganggang dipasok oleh perusahaan Israel, Algatech yang ditanam di air laut di “pertanian vertical” dalam ruangan yang menggunakan energy matahari. Sehingga, tidak seperti kapas, pemasok ganggang ini tidak memakan lahan pertanian dan emisi karbon yang terkait dengan penggunaan pupuk. Algaeing kemudian mengubah ganggang laut menjadi formula cari yang dapat digunakan sebagai pewarna atau diubah menjadi tekstil bila dikombinasikan dengan seluosa. Krebs juga mengklaim bahwa serat Algaeing memotong penggunaan air hingga 80%.Saat ini, serat berbasis ganggang laut lebih mahal daripada serat konvensional seperti kapas. Tetapi, Krebs mengatakan bahwa sebagai produk yang berkelanjutan dan etis, hal itu menambah value dari merek. Algaeing bahkan menerima penghargaan dari H&M Foundation, dimana Algaeing disebut sebagai serat tekstil masa depan yang berhasil menangani tiga poin utama dari industry fashion: ketergantungan pada air tawar untuk menumbuhkan serat, penggunaan bahan kimia seperti pestisida dan pewarnaan tekstil, serta pengunaan energy.
Krebs mengatakan bahwa pandemi telah menunjukan kepada bisnis dan merek bahwa beradaptasi dengan tantangan baru sangat penting untuk bertahan hidup. Sementara tantangan kini adalah adanya pandemi Covid-19, tantangan jangka panjang yang lebih besar adalah perubahan iklim –dan disinilah Krebs berharap Algaeing dapat membuat perubahan.
Disadur dari CNN News
Opinion: Welcome To The Era of Greenwashing
| Source |
Istilah “suistanable”, “eco-friendly” dan “natural” kini semakin akrab ditelinga khususnya di industri mode. Hal ini didorong dengan semakin meningkatnya kesadaran Milenials dan Generation Z terhadap apa yang mereka beli dan konsumsi. Namun ternyata, masih banyak merek-merek yang mengambil rute “cepat” untuk menarik daya beli konsumen, yaitu melalui greenwashing. Greenwashing adalah taktik yang digunakan perusahaan untuk kelihatan lebih suistanable daripada yang sebenarnya. Ini bisa berarti membuat klaim palsu tentang praktik produksinya atau bahkan dengan sengaja mengaburkan fakta. Chatte sendiri melihat fenomena ini sebagai produk kapitalisme. Pada dasarnya perusahaan bertujuan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sementara itu, siklus produksi yang sustainable memang secara praktik masih memerlukan cost yang tinggi. Tidak semudah itu bagi perusahaan untuk mengubah system produksi yang selama ini sudah mereka jalankan. Kini, semua kembali ke diri kita sebagai konsumen, dimana kita memiliki kendali penuh. It’s time for us to be a smart consumer. Do your research, jangan mudah terpengaruh oleh klaim merek tertentu saat akan membeli produk.
DISCLAIMER:
Konten pada blog ini adalah bagian dari tugas mata kuliah Multimedia, dan hanya digunakan untuk kepentingan pembelajaran semata. Sumber bacaan: https://www.theguardian.com/sustainable-business/2016/aug/20/greenwashing-environmentalism-lies-companies
