Negara Barat terus memproduksi pakaian murah secara massal, banyak dari pakaian itu hampir tidak terpakai hingga akhirnya disumbangkan atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Di Ghana, pakian bekas terus membanjiri infrastruktur negara Afrika Barat tersebut dan menimbulkan ancaman lingkungan yang sangat besar terhadap sekitarnya.
| Credit: Ridwan Karim Dini-Osman/The World |
Warga Ghana kemudian memanfaatkan ini sebagai lahan bisnis, membeli dan menjual kembali pakaian besar tersebut dalam bentuk bal maupun satuan. Pasar industri ini menjadi sumber mata pencaharian mereka, namun dampaknya terhadap lingkungan pada akhirnya menjadi masalah yang terus berkembang di Ghana. Lebih dari 15 juta potong bakaian bekas yang tiba di Ghana diterima dengan kondisi yang tidak dapat dijual ataupun dipakai karena tidak dapat diperbaiki lagi. Pada akhinrya, 40% dari pakaian tersebut meninggalkan Kantamanto dan berakhir di tempat pembuangan limbah.
Tidak hanya mengakibatkan krisis lingkungan, kenyataan ini juga membawa krisis keuangan bagi para penjual di Kantamanto. Seperti yang dikatakan oleh Liz Rickett, seorang juru kampanye suistanable fashion asal Amerika, jumlah pakian yang sangat banyak dan kualitasnya yang sangat rendah mengakibatkan mereka tidak dapat melakukan penjualan dan mendapatkan modal mereka kembali. Sehingga pada dasarnya, mereka beroperasi dengan siklus hutang. Tidak hanya itu, limbah pakaian bahkan menyumbat saluran pembuangan utama selama banjir besar yang kerap terjadi di Accra. Pakar kesehatan masyarakat mengatakan bahwa ini dapat meningkatkan risiko penyakit seperti malaria dan kolera. Solomon Noi, kepala pengelolaan limbah di Ghana, mengatakan bahwa pakaian di tempat pembuangan sampah menghasilkan gas metana dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kebakaran hebat. Kini, sebagian besar limbah fashion Ghana pun berakhir di pantai negara itu dan tentunya berdampak merugikan bagi kehidupan akuatik.
Bagi Liz Rickett, solusi untuk apa yang terjadi saat ini di Ghana adalah pertanggung jawaban dari para produsen fast fashion Barat. Mereka harus membersihkan kekacauan yang telah dibuat sehingga Ghana dapat mengkatalisasi ekonomi sirkularnya sendiri dan memiliki infrastruktur yang lebih berkelanjutan, Menurutnya, akar masalah ini adalah warisan kolonialisme. Noi menawarkan solusi lain, yaitu pelarangan kedatangan pakaian bekas dalam beberapa waktu kedepan. Namun bagi ribuan pedagang di Kantamanto, langkah tersebut harus disertai dengan sumber mata pencaharian alternatif. Terutama di negara dimana pengangguran yang melonjak dapat memperparah kondisi perekonomian.
Disadur dari pri.org
